MACAM-MACAM HATI DAN KRITERIANYA
Nabi saw bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging,
apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging
itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal
daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].
Pengelompokan
Hati Manusia
Hati manusia
terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun
Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridl (hati yang sakit).
Pertama, Qalbun Shahih
yaitu hati yang
sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah
Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi
keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari
penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni
pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik pengabdian secara iradat
(kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut
atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya
untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena
Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi
atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah.
Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim
kepada syari’at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri
dalam menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala hal. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu
mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS. Al-Hujurat/49:1].
Ciri-ciri Qalbun Shahih
1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan
berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang
ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar
sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan
Nabi saw kepada Abdullah bin Umar : “Jadikanlah dirimu di dunia ini
seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan.”
[HR. Bukhari].
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk
peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi
sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.
3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di
jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman.
Yahya bin Mu’adz berkata: “Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah,
maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa
tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat
dirinya.
4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua
kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia
temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya,
melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.
7. Tidak pernah terputus dan futur (malas)
untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya.
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari
suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam
beramal, mengikuti petunjuk syari’at rasulullah saw di samping ia selalu
merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui
tentang kelalaian dan keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Kedua, Qalbun Mayyit
Qalbun Mayyit (hati
yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah
mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri
berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya,
walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka akan
perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa
yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika
mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi.
Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Hati jenis ini
adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah
berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup hati
mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ” Dan diantara mereka ada
orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas
hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di
telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap
tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk
membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah
dongengan orang-orang dahulu‘.”[QS. Al-An’am/6:25].
Ayat ini
menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami
ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk
mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga tidak mau melihat
kebenaran yang telah disampaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala: “(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan
kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada
dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula.”[QS.
Fushilat/41:5].
Allah Subhanahu wa
Ta’ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan
mendapatkan cahaya iman. “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang
menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah
menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam
kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka
tidaklah kembali kepada jalan yang benar.” [Al-Baqarah/2:17-18].
Ketiga, Qalbun Maridl
Qalbun Maridl (hati
yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya
tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam
sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud’izah.
Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Agar Dia menjadikan
apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.”[QS. Al-Hajj / 22:53].
Karena sesungguhnya
apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu
menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat.
Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah
merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang
munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang
menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan
kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di
madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.”[Al-Ahzab:60].
Namun demikian hati
orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir
dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya
hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit
syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sehingga
berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya.“[QS.
Al-Ahzab:32].
Ciri-ciri
Qalbun Maridl
Boleh jadi hati
manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya
sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.
Tanda-tanda
spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan
pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya
telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai
kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid
dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: “Fi Qulubihim Maradhun“[QS.Al-Baqarah:10].
artinya: “Dalam hati mereka terdapat penyakit.” “Ayat ini menunjukkan
adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.” Bahkan ia
melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya.
Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga
dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.
Faktor-faktor
penyebab sakitnya hati
Penyebab timbulnya
penyakit di hati adalah dikarenakan banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan
pada hati. Fitnah-fitnah tersebut dapat berupa: fitnah syahwat,
dimana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan iradat
(kehendak) seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan)
yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).
Racun Hati
Setiap kemaksiatan
adalah racun dan yang merupakan penyakit dan perusak kesucian hati. Dan
racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi
kelangsungan hidup hati ada empat macam yaitu:
1.
Berlebihan dalam berbicara
Banyak berbicara
adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda
rasulullah saw :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah,
karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang
terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari
Ibnu Umar]. kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang membuat
seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan
sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Umar bin Kahttab ra
pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak
kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini
ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya
seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan
ia tergelincir kedalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.” [muttafaq
‘alaihi, dari Abu Hurairah t]
2.
Berlebihan dalam memandang sesuatu
Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan
pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga
mereka akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda rasulullah saw : “Barangsiapa
yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa
manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap
kepada-Nya.” [HR. Ahmad]. Sekarang bagaimana jika
perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya.
yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu
yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia
berbuat melampaui batas sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia
menjadi pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:”Janganlah
kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami,
serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS.
Al-Kahfi:28].
3.
Berlebihan dalam makan
Sedikit makan dapat
melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu
amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat
sebaliknya.
Dari Miqdam bin
Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda: “Anak
adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya.
Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika
memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum,
dan sepertiga untuk nafasnya.”[HR. Ahmad dan Tirmidzi].
Alangkah banyak
kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan
manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga
perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya
mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.
Ibrahim bin Adham
berkata:”Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula
mengendalikan agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak
makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik, sebab
maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu syahwat
perutnya).”
4.
Berlebihan dalam bergaul
Betapa tragis suatu
pergaulan yang dapat merampas kenikmatan yang telah ada, karenanya timbul
benih-benih permusuhan dan kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan
rongga-rongga dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang
sudah terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat
mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi seorang hamba dapat
mengambil hikmah dari setiap pergaulan. usahakanlah untuk bersikap bijak dan
dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan.
Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan:
– Terhadap orang
yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap
makanan, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah
Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas
tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit
hati.
– Terhadap orang
yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita
mengharapkannya dikala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat
maka mereka tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang
kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan
kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam
berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.
– Terhadap orang
yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini
terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya
terhadap jiwa kita. Diantara mereka adalah yang bersifat individualis dan
egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam
menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau
bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh
kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal agama dan dunia. oleh
karena itu sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah dujauhi
jika ingin selamat agama dan dunia kita.
– Terhadap orang
yang bila kita bergaul dengannya akan membawa kefatalan, sebab ia laksana ular
berbisa. Andaikan kita sampai terkena patuknya, kemudian kita berhasil
menemukan penawarnya maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana
bagi kita. Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah Ahli
bid’ah yang sesat dan menyesatkan, menyimpang dari sunnah rasulullah saw.
Mereka pandai membolak-balikkan fakta, sunnah mereka jadikan bid’ah dan bid’ah
mereka jadikan sunnah. Bagi orang yang berakal tidak layak untuk bergaul
ataupun duduk-duduk bersama mereka. Jika itu tetap dilakukan maka akan sakitlah
hati bahkan bisa menyebabkan hatinya menjadi mati.
Kiat
Menjadikan Hati Tetap Hidup
Ketahuilah, bahwa
hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar
(usaha). Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati
tetap hidup adalah:
1.
Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an.
Dengan senantiasa dzikrullah
(menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar.
Sebagaimana Dia berfirman: “Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat
Allah, hati menjadi tentram.”[QS. Ar-Ra’du:28]. Al-Imam
Syamsuddin Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah makanan pokok bagi
hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang dari siraman dzikir, maka jadilah ia
bagaikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya.”Dan Imam Hasan
Al-Bashri berkata:”Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir”.
Kendatipun dzikrullah
adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala
dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah lebih besar
(keutamaannya daripada ibadat yang lain).”[Qs. Al-Ankabut:45].
Sebaik-baik dzikir
adalah membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengandung berbagai khasiat
penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman; “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”[QS.
Yunus:57].
2.
Beristighfar
Hakikat istighfar
adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah
penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang
meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu wa
Ta’ala memberikan ampunan. Firman-Nya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah
niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[QS.
An-Nisa’:110].
Hendaklah seseorang
itu memperbanyak istighfar kepada-Nya dimanapun berada, sebab
seseorang itu tidak tahu dimana tempat maghfirah Tuhannya turun.
sebagaimana rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku selalu
mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tuju puluh kali.” [HR.
Bukhari].
‘Aisyah チ
berkata: “Beruntunglah orang yang mendapat dalam buku catatan amal perbuatannya
memuat istighfar yang banyak.” Qatadah berkata:”Sesunggunhya Al-Qur’an ini
memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun
penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar.”
3. Do’a
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. “[QS.
Al-mukmin:60].
Dalam ayat ini
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar berdo’a kepada-Nya dan
Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya. berkenaan dengan ini rasulullah saw
bersabda: “Tidaklah seorang Muslim pun berdo’a dengan do’a yang di dalamnya
tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi melainkan Allah memberikan
kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya
itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat
kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do’anya itu.”[HR.
Ahmad, hadits shahih]. Dalam ayat yang sama Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku (tidak mau berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam
keadaan terhina.”[QS. Al-mukmin:60]. Orang-orang yang
tidak mau berdo’a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah Subhanahu wa
Ta’ala adalah termasuk orang yang sombong, dan mereka mendapatkan murka
dari-Nya. sebagaimana rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang tidak mau
meminta (memohon kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya.” [HR.
Tirmidzi dari Abu Hurairah].
4.
Bershalawat kepada Nabi saw
Allah Subhanahu wa
Ta’ala bershalawat (menyebut dan memuji di hadapan para malaikat) sepuluh kali,
bagi orang bershalawat kepada rasul-Nya (sekali). Sebagaimana sabda beliau saw
: ”Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan
bershalawat sepuluh kali lipat.”[HR. Muslim]. Karena yang
demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan sepuluh
kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk kebaikan yang tinggi.
5. Qiyamullail
Jika seseorang
tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya akan bercahaya dan dia juga akan
merasakan kenikmatan beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh
para Ulama Salaf berikut ini:
Abu Sulaiman
berkata: “Malam hari bagi orang yang sering beribadat di dalamnya, itu
lebih nikmat daripada permainan bagi mereka yang suka hidup bersantai-santai.
Seandainya tanpa malam aku tak suka hidup di dunia ini.”
Ibnul Mukandir: ”Bagiku
kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, qiyamullail, bersilaturahmi
dengan ikhwan dan shalat berjama’ah.”